Oleh: M Lutfi
Blog ini berisi tulisan-tulisan saya dengan berbagai genre. Ada puisi, motivasi dll.
Selasa, 20 April 2021
Aku, Annimarie Schimmel dan Karya Binhad Nurrohmat
Oleh: M Lutfi
Rabu, 17 Februari 2021
Kini Saat Pandemi
Oleh M Lutfi
Kini saat pandemi tak kudapati lagi bunyi kursi-kursi kelas berderit memecah sunyi; tak bisa lagi aku sahut menyahut berbalas tawa di sela-sela belajar bersama teman-teman
Kini saat pandemi semua menjadi serba sunyi
Masjid-masjid mulai sepi,
Sekolah-sekolah tak boleh dibuat tempat belajar lagi
Tapi pasar masih ramai,
Para elit juga makin gencar memasarkan kata-kata
Sekarang aku hanya punya rindu yang terus berkecamuk meramaikan kalbu.
Seperti kata Candra Malik dalam puisinya,
"Di dalam rindu, bukan tak ada ragu.
Yang kau rasa sepi, sungguhnya ramai."
Ya, kini aku benar-benar ragu, kuatkah aku?
Di masa pandemi menahan sepi
Yang entah kapan wabah ini berhenti; pejabat saja tak mengerti
Kini aku benar-benar berkawan sepi
Bisa mampus aku dikoyak-koyak
Depok, 16 Februari 2021
Minggu, 31 Januari 2021
Aku Tak Bisa Berkata Jujur
Oleh: M Lutfi
Aku tak pernah bisa jujur tentang kata-kata cintaku
“Kau adalah mawar di hatiku” contoh ketidakjujuranku
“Cintaku padamu bak lautan” ketidakjujuran yang sering kuulang
Bagaimana mungkin kata-kata bisa mewakili rasa
Jika ia masih butuh titik dan koma
Cintaku tak mungkin bisa digambarkan
Apalagi dihentikan
Aku ingin berkata jujur
Tapi tentang perasaanku padamu
Bagaimana cara kuungkap
Jika cinta tak bisa dibahasakan
Aku ingin berkata sedikit saja
Bukan saat cintaku bara
Tapi ketika kau butuh jawab dari tanyamu
Aku ingin diam saja
Tapi khawatir kau tak paham
Bahasa diamku
Pesanku...
Jika suatu saat aku hanya diam
Berarti aku sedang berkata-kata
Kau tak perlu menjawabnya
Tidak usah juga kau ikut diam
Cukup kau genggam tanganku
Aku akan berhenti berkata soal cinta
Saat aku sudah menjadi kata-kata terakhirmu
Depok, 22 Januari 2021
Rabu, 30 Desember 2020
Terkabulnya Doa Daun
Oleh: M. Lutfi
Di malam yang sunyi
Ranting-ranting pohon merunduk kesepian; kedinginan
Beberapa daun jatuh: doanya terkabulkan
Dengan lekas bumi memangkunya; mendekapnya
Daun-daun yang sudah rebah tersenyum membuat iri dedaunan yang masih gigil mendekap sepi pada ranting-ranting
Depok, 30 Desember 2020
Sabtu, 21 November 2020
Melodi Cinta
cerahnya pagi
bahagianya hati
baca puisi
alunan melodi menghibur telinga
asmara mekar semerbak menjalar
melilit tubuhku dan tubuhmu
hati berbunga
dibutakan asmara
kita berdua
kita meliak-liuk
merayakan dua hati yang menyatu
sesekali meringkik
kadang meringkuk
kau menunjuk aku mengangguk
jalan ke taman
angin berembus kencang
bergandeng tangan
kau dan aku mencipta dunia baru
dalam angan kita seingin
Depok, 2020
Duri Kehidupan
Oleh: M. Lutfi
Keringat matahari membasahi
sekujur tubuh
Duri kehidupan menggores
ototku, ngilu dirasa
Aku masih berdiri tegak
Melukis jejak
Apa aku harus hibernasi?
Sekadar untuk mengisi nutrisi
Sekadar untuk mengobati otot nyeri
Kuputuskan untuk beranjak
Menyeret kaki yang hampir mati
Semua perih pun nanti akan mati
Aku berlari penuh percaya diri
Depok, 20 Juli2020
MELUKISMU
Oleh: M. Lutfi
sudah sekian lama jari-jemariku menari
tak kunjung usai melukis rautmu yang begitu puitis. helai demi helai rambutmu mulai tergambar.
aku tak sabar ingin segera merampungkan seni ini. tapi rasanya tak akan pernah usai, karena persepsiku tentangmu terus berkembang. ada berjuta-juta hal yang harus kuuraikan.
melukismu adalah perjalanan panjang. mungkin aku tak akan pernah bisa menyelesaikannya. hari demi hari rambutmu semakin lebat membuatku harus terus menambah tinta baru sekadar untuk melukisnya, lagi dan lagi.
Depok, 10-09-02-112020
Kamis, 19 November 2020
Restu Semesta
Oleh: M. Lutfi
Roda waktu terus bergulir menyisir segala
atmosfer ciptaaan kita
Kita sudah lama terbius dalam rasa
Kini digerus olehnya
Ditindis habis. Hancurlah paripurna yang telah kita ramu
Aku tak sepenuhnya menyalahkan waktu
Karena ia hanyalah kuda-kuda renta
Kitalah penunggangnya
Hanya saja, mungkin kita kurang pandai mengendalikannya
Aku juga tak mau menyalahkanmu
Kita sama-sama kurang dalam hal mensiasati
Biarlah waktu membentang semaunya
Kamu juga tak mengapa jika hendak mengikuti alur ke ujung waktu
Aku tak masalah menetap di sini
Aku masih punya sajak untuk menakar jarak
Aku masih punya iamaji untuk melawan sepi
Aku masih punya air mata untuk membasuh luka. Yang tak kupunya hanya restu semesta dan restumu.
Depok, 06 November 2020
AKU WAKTU DAN KAU
aku dan waktu hendak berkunjung dan kau malah berpindah waktu
kau terlalu sibuk mencari waktu, sedangkan aku masih di waktu yang lalu
ingin sekali kubawakan 'waktu' itu padamu
agar kau tak lagi bingung akan waktu
bagaimana bisa kau terbuai dengan banyak waktu, sedangkan aku masih terbui dalam satu waktu, yaitu waktu kau ada di situ
aku masih bingung, waktukah yang membawamu lari hingga kau menjadi jauh, atau kau yang sengaja menjauh dari waktuku
andai aku bisa mengendarai waktu akan aku kunjungi senyummu kala itu, kapan saja aku mau
18-11-2020
Selasa, 17 November 2020
Pusara Rindu
Oleh: M. Lutfi
Sore mencekam, debu-debu dihempaskan
Hanyut entah ke mana. Riah-riuh selokan mempermainkan berjuta-juta debu.
Ingin kuhanyutkan juga segala desah rindu.
Akan tetapi, aku terbawa deraian.
Terombang-ambing, terjebak dalam belenggu imaji. Entah ke mana aku hendak dilanting. Ruang imaji tiada bertepi. Gelombang rindu tak bisa diukur. Akankah aku tersungkur lebur. Aku bertahan seraya tadabur. Hujan sudah pasti reda. Angin akan berhenti jua. Debu-debu akan sampai ke tempat beradu. Dan aku 'tak tahu di manakah pusara rindu. Yang kutahu segenap rasa bermula darimu. Aku berharap kepadamulah bermuara jua.
Depok, 01112020
Restu Semesta
Oleh: M. Lutfi
Roda waktu terus bergulir menyisir segala
atmosfer ciptaaan kita
Kita sudah lama terbius dalam rasa
Kini digerus olehnya
Ditindis habis. Hancurlah paripurna yang telah kita ramu
Aku tak sepenuhnya menyalahkan waktu
Karena ia hanyalah kuda-kuda renta
Kitalah penunggangnya
Hanya saja, mungkin kita kurang pandai mengendalikannya
Aku juga tak mau menyalahkanmu
Kita sama-sama kurang dalam hal mensiasati
Biarlah waktu membentang semaunya
Kamu juga tak mengapa jika hendak mengikuti alur ke ujung waktu
Aku tak masalah menetap di sini
Aku masih punya sajak untuk menakar jarak
Aku masih punya iamaji untuk melawan sepi
Aku masih punya air mata untuk membasuh luka. Yang tak kupunya hanya restu semesta dan restumu.
Depok, 06 November 2020
Minggu, 15 November 2020
TENTANGMU
Oleh: Butiran Atom
1/
matamu adalah seorang ibu
rapi menyembunyikan air mata
seutas resah kaubasuh hingga luluh
kauutus seribu senyum kultus
meletus-letus membuatku terbius
2/
hatimu adalah seorang ayah
tegar menghadapi musibah
debur-debar lara kaucecar
kaulerai jiwamu yang berkobar
membuatku bebas berselancar
hingga kuterkpar dalam buaimu
3/
bibirmu adalah ladang tebu
mencipta gula manis-madu
meski kau diserang rindu
senyummu tetap berkaldu
berkilau seakan tak ada galau.
apalagi pilu
4/
ingin kubersedekah hati
agar perihmu tak menjadi parah
dan saat asmara melanda
aku bisa ikut merasa
seia sekata adalah hal yang paling kudamba
5/
andai aku bukanlah ingin dalam anganmu
tetap saja kau adalah anganku yang mengangin menghembuskan segala ingin.
dalam hela napasku kau adalah paras yang tak butuhkan rias
Depok, 15-11-2020
SANGKARMU
OLEH: M. Lutfi
bibirmu bergetar mencipta syair
membuat hatiku berdebar berdebur
Aku tersihir
Kau sungguh mahir
mencipta petir
Menyambar-nyambar, membuatku terjungkir, terbujur dalam sangkarmu
Aku adalah musafir lapar
yang terdampar dalam altarmu
Aku berikrar bahwa tak akan mundur
Sekalipun, aku harus lebur dalam lumpurmu
Getar-getir kan kuusir
Hingga pada titik akhir aku dan kau membalur liur bersama
Depok, 15-11-2020
Jumat, 13 November 2020
Kenapa
Oleh: M. Lutfi
Luka dengan segala liku yang berkilo-kilo
Bertalu-talu dalam kalbu
Kapan kan berlalu segala pilu?
Palu yang tak tahu malu memukul-mukulku membuat ngilu
Ke pulau mana kuharus berteduh?
Rindu yang terus berlaju menantangku tuk selalu berseteru
Malam yang malang melintang mengajakku baradu malang
Siapa yang paling malang?
Malam yang kelabu atau aku yang kelu?
Pagi berseri-seri menawarkan seribu misteri tentang serba serbi, surau-surau suram, dan tentang maut yang magis
Siapa yang kan dipungut?
Siapa yang kan memungut?
Siapa yang terpaut dan siapa yang memaut?
Siang kering kerontang
Banyak yang terluntang-lantung
Ada yang mati tergantung
Ada yang menggunting-gunting
Bahkan, ada yang meraung-raung meriang
Menjelang sore binatang-binatang jalang lalu lalang mencari liang-liang kosong, jurang-jurang untuk menjerumuskan banyak orang
Menjelang kematian penuh penyesalan
Tentang penantian yang tak dinanti-nanti
Seribu sepi karena tak ada yang menghampiri
Seribu lara karena tak ada yang mencinta
Kenapa harus ada yang lupa pencipta, padahal dari-Nya cinta bermula, dan hanya kepadanyalah semua bermuara?
Kenapa?
Depok, 13-112020
Kamis, 12 November 2020
Kau Mau Apa
Oleh: M. Lutfi
Apa yang kau kejar?
Ikan-ikan pandai berenang
Kau takkan menang
Apa yang kau cari?
Merpati yang begitu gigih?
Kau pasti menepi dan dia takkan berhenti
Kau berharap kualitas?
Inginmu kan retas
Ingat, anganmu tak terbatas
Kau mau cinta?
Pecinta atau yang dicinta?
Dua-duanya selalu bara
Apa kau siap lara?
Sudahlah tak usah banyak berharap
Atau berharaplah luka yang tak membuat lara. Atau jadilah sampah. Rebah di mana saja tanpa resah. Atau jadilah perindu yang tak harapkan temu
Kau mau jadi apa?
Mau semuanya atau tak mau apa-apa?
Mana yang lebih utama?
Yang utama atau yang membuat bahagia?
Pilih salah satunya!
Sudahlah kamu luar biasa dengan menjadi biasa.
Depok, 12-11-2020
Rabu, 11 November 2020
Hari Jomlo Sedunia
Hari ini adalah hari jomlo sedunia, semangat pada kalian yang masih menyandang gelar jomlo. Jomlo adalah pilihan bukan nasib, begitulah memek yang banyak tersebar hari ini. Dan kali ini aku bawakan Puisi Akrostik yang berjudul jomblo.
Jomblo
Oleh: Butiran Atom
Jiwa-jiwa gersang kerontang
Omongan banyak orang tajam bak pedang
Mempermasalahkan pernikahan
Bahwa makhluk dicipta berpasangan.
Liat-liut kehidupan, kadang memilukan
O, jiwa berbahagialah dengan kesendirian
Depok, 11112020
Selasa, 10 November 2020
Catatan Grup KOPIP
Di grup KOPIP ( Komunitas Penikmat Puisi)
Sudah biasa saling berbalas kata-kata
Berikut sebagian catatanku saat beradu kata-kata.
[8/11 22:32] Butiran Atom:
Tolong yang epik dong, Dinda
Kau tertawa ria
Dan aku tertimpa rawa
Apa kau sudah biasa tertawa atas derita?
Dinda, kapan-kapan jika kau hendak kembali
Belikan aku obat penawar rindu
Aku sudah tak mampu hidup dalam belenggu
Dan kelak jika kau hendak pergi untuk yang kedua kali, tolong matikan dulu hatiku agar aku tak merasakan apa-apa
[8/11 22:59] Butiran Atom:
Kepada awan
Aku butuh kawan
Kepada langit aku butuh wangsit
Kepada bumi aku butuh musim semi
Kepada lautan aku butuh garam
Agar tak hanya asin kenangan yang kurasakan
Kepadanya mantan aku butuh kamu karena air mata juga butuh jalan-jalan
Wkkw
[8/11 23:11] Butiran Atom:
Kau ungkit kembali semua kisah-kisah kita
Tapi kau malah sibuk mencipta kisah dengan kasih barumu itu?
Tak adakah cara yang lebih elegan untuk membuatku menangis lirih
Tak bisakah kau diam-diam saja saat kau tengah bahagia dengan si dia
Mengapa kau malah mengumbar berita tawamu
Dan kau abaikan laraku
[8/11 23:48] Butiran Atom:
Jika pilu sudah menimpa
Tak perlu lagi kau tahan air mata
Hati tak pernah berdusta
Jangan pernah kau suruh merangkai kata-kata
Ia hanya pandai merasa
Napas pasti 'kan lepas
Tak ada yang merampas
Sejatinya kita memanglah ampas yang pasti retas
Senja tak 'kan mampu membendung lara
Jangan kau berharap padanya
Senja akan redup bahkan tekatup
Jika senja saja tak abadi
Kelam malam pun pasti mati
Siapa yang abadi?
[9/11 18:32] Butiran Atom:
Maha Cinta
Derap-derap cinta-Mu terekam dalam hembusan napas ini
Malam ini kuhitung butir demi butir nikmat-Mu
Aku merindu dalam kesunyian yang menggebu
Aku berlayar menuju pulau indah-Mu
Namun aku terhalang oleh dosa-dosaku
Andai tanpa ampunan-Mu sudah pasti aku tenggelam
Aku tersenyum akan nikmat-Mu
Dan saat ini aku tengah tersenyum terhadap bibir rekahku sendiri
Karena di situlah, rahmat-Mu bersemayam
[10/11 22:01] Butiran Atom:
Aku tak sedang merayumu, Dinda
Tak ada maksud sedikitpun untuk merayumu
Salahkah aku jika kubisikan padamu
Segela desah tentang bayangmu yang selalu menghantui malamku?
Baiklah, jika dikau tak suka akan ketemani bayangmu di sini sampai ia benar-benar membawaku ke tempat yang ia mau
Dan kelak jika dikau tak lagi bisa melihatku
Jangan cari aku di sini
Tanya aja pada bayangmu
Ke mana ia telah membawaku.
Umur
Oleh: M. Lutfi
Untuk: Teman
Setapak demi setapak untuk menuju puncak
Jantung berdetak, kaki bergerak
Bertindak demi sebuah jejak
Demi cita yang mengawan
Doa-doa dilangitkan
Berharap pada Tuhan
Kuhitung umur dengan kedip mata
kuukur langkah dengan bibir rekah
Dan kini, aku merayakan ultah
Semoga tambah barokah
Lautan masih terhampar
Masih banyak yang harus kukejar
Ombak masih menderu
Sejuta pilu 'kan berlalu
Jalanan kian membentang
Aku harus tetap berjuang
Depok, 09-11-2020
Minggu, 08 November 2020
Maut
Misteri yang menghantui
Kepastian tak terpungkiri
Siapa saja bisa terseret
Bahwa yang bernyawa 'kan terjerat
Bumi selalu berteriak
Ia tak mau hanya diinjak
Berhasrat untuk mendekap
yang berderap di punggungnya
Tak ada kaki kokoh
Semua akan roboh
Kita yang tengah gigil pun akan di panggil
Mereka yang tengah angkuh juga akan jatuh
Mangga Bolong, 08112020
#odoppuisi
Sabtu, 07 November 2020
Tak Pernah Sepi
Burung-burung terbang tanpa beban
Hinggap ke mana saja yang dimau
Pohon-pohon selalu menyambutnya
Jalanan tak pernah sepi dari kendaraan
Ia sudah menjadi kesatuan yang tak terpisahkan
Andai kamu tak pergi, pasti hati ini masih tetap ramai dengan ceria
Sekarang sih, masih ramai. Hanya saja, dengan rasa yang berbeda
Dulu hatiku penuh kebahagiaan
Sekarang hatiku sesak dengan kerinduan
Hatiku tak pernah sepi, kamu pergi membawa rasa, dan meninggalkan sisa: berupa duka
Depok, 3 Juni 2020
Aku, Annimarie Schimmel dan Karya Binhad Nurrohmat
Oleh: M Lutfi Bermula dari baca-baca artikel tentang Annimare Schimmel, mulai dari kisah pertemuannya dengan Habib Quraisy Baharun (ki...
-
Oleh: M Lutfi Bermula dari baca-baca artikel tentang Annimare Schimmel, mulai dari kisah pertemuannya dengan Habib Quraisy Baharun (ki...
-
Assalamualaikum sahabat literasi. Semoga kalian semua baik-baik saja. Salam literasi. Yuk membaca! Bersyukur banget aku bisa mengenal ODOP. ...
-
Yang ditakutkan dari sebuah hubungan, bukan lagi perubahan jarak, yang bisa membuat saling menjauh. Juga bukan perubahan waktu, yang bisa me...